Nabi Adam
yang pertama mengelola bumi
“Dimanakah ini ?”, Adam bertanya
dalam hati, terasa dingin, gelap dan tidak nyaman. Sepi seperti tidak ada
kehidupan. Tidak seperti biasanya, di sorga yang nyaman, sejuk, bergelimpang berbagai
jenis makanan yang lezat dan dapat dinikmati sepuasnya di setiap waktu. Tempat
yang Adam dan istrinya, Hawa, tempati. Tapi kenikmatan itu kini sirna, hilang.
Adam kini merenung,
terpekur, bersedih. Teringat kesalahan yang telah dia lakukan karena mengikuti
bujuk rayu iblis, dengan melanggar larangan Alloh SWT, memakan buah terlarang.
Adam kembali menundukkan
kepala, air matanya menetes tak tertahankan. “Ya Alloh, hamba sungguh menyesal dengan apa yang hamba lakukan, ampunilah hamba ya Alloh” gumam Adam dalam hatinya.
Adam menyadari, Alloh SWT
sangat kecewa dengan dirinya. Ia adalah manusia pertama yg dibanggakan
dihadapan para Malaikat dan iblis, yang disebut sebagai makhluk yang paling
baik, yang paling pantas mengelola bumi. Namun karena kesalahannya, kini Adam
diturunkan ke muka bumi dengan keadaan yang tidak nyaman.
Adam lupa, karena
tergelincir godaan iblis, untuk menjauhi pohon terlarang. Dan karenanya, Alloh SWT
mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga dan menurunkannya ke bumi. Adam dan Hawa
diturunkan di tempat yang berbeda, Hawa diturunkan di Jeddah dan Adam
diturunkan di puncak gunung Baudza, yang terletak di wilayah Dahna, India.
Konon gunung itu dikenal sebagai gunung Adam. Telapak kaki Adam yang berukuran
1,8 m, ada jejaknya disana. Ukuran kaki yang sangat besar karena Adam adalah
manusia pertama yang tingginya sekitar 30 meter.
Di puncak gunung itu, Adam terus menyesali kesalahan yang telah diperbuatnya, dengan penyesalan yang mendalam. Adam sangat malu dan bersedih hati, dan memohon ampunan kepada Alloh SWT dengan terus memanjatkan doa
” Robbanaa Dzolamnaa anfusanaa wainlam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunannaa minal khoosyirin ”
( “ Wahai Tuhan
kami, kami telah mencelakakan diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni
kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. – QS. Al A’rof: 7-23 - )
Tanpa merasa lelah dan
bosan, Adam terus berdoa memohon kasih sayang dan belas kasihan Alloh SWT. Atas
kesungguhan taubatnya, maka Alloh SWT memberikan kasih sayangnya dengan
mengampuni Adam, kemudian Alloh SWT memerintah malaikat untuk membimbing Adam
mencari istrinya, Hawa.
Adam yang tubuhnya tinggi
besar, cukup hanya dengan berjalan kaki menyusuri perjalanan dari India ke Makkah.
Saat itu belum ada makhluk lain selain Adam dan Hawa. Adam dan Hawa saling
mencari selama 40 hari. Hingga akhirnya mereka bertemu di Makkah, di bukit Jabal
Rahmah, bukit kasih sayang karena tempat bertemunya Adam dan Hawa, yang
kemudian hidup dengan berkasih sayang.
Jabal Rahmah letaknya di
sebelah timur kota Makkah, diatas bukitnya
terdapat tugu sebagai tanda tempat pertemuan Adam dan Hawa. Adam dan Hawa
membangun keluarga dan menjalan peran sebagai khalifah di muka bumi, yaitu
mengelola bumi dengan baik berdasarkan
ilmu yang Alloh SWT berikan,
Semua hal yang dilakukan Adam
dan Hawa di muka bumi, membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang paling pantas
mengelola bumi dengan ilmu pengetahuan yang luas serta kreatifitas yang
dimilikinya. Seperti yang ditunjukan oleh Qabil, putra Adam, sebagai petani
ulung, menyulap bumi yang gersang menjadi subur, begitu juga Habil, adiknya
Qabil, yang ahli dalam bertenak.
*Disadur dari berbagai sumber, dan
diceritakan kembali dengan gaya bahasa bebas







0 comments:
Post a Comment